Monday, October 12, 2020
Khodijah Ma'afkan Bunda
Kamis 8 Oktober 2020 ujian yang cukup membuatku terasa tak berdaya. Hari itu putriku Khodijah demam tinggi, dua hari sebelumnya badannya agak meriang, saya pikir ini efek cuaca yang kurang baik, biasanya tanpa diobati sembuh sendiri
Hari ketiga, paginya juga masih biasa saja main sama teman-temannya walau badannya agak meriang tak dihiraukannya, tetap asik tertawa, memang begitulah seperti sebelumnya. Sehat-meriang tidak ada bedanya, yang membedakan hanya badannya agak panas
Melihat dia tetap ceria, saya dan kakak pergi belanja dapur kepasar, karena saya belum bisa mengendarai motor, kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam, setelah membeli semua kebutuhan, kami pulang
Sampai rumah Khodijah tidur di ayunan, saya pun langsung masak, mengingat belum ada yang makan dari tadi pagi, setelah masak saya bergegas makan, takut nanti Khodijah keburu bangun. Ternyata benar saat mulai makan dia bangun, saya buru-buru menyudahi makan, ibu saya yang bantu nurunkan dari ayunan lalu mengantarkannya ke saya
Ibu saya bilang badan Khodijah makin tinggi panasnya, saya mengambilnya lalu memberikan dia ASI, kakak saya bilang kasih minum sirup Abang saja dulu, karena sebelum Khodijah demam Abang sepupunya demam duluan, selisih usia mereka sekitar 40 hari jadi bisalah satu obat pikir saya
Setelah kasih dia minum obat saya menggendongnya, karena sejak badannya panas tinggi dia sangat rewel, saya berusaha menenangkan dia dengan mainan dan meminta temannya untuk menghiburnya namun belum juga berhasil
Tetanng yang tau dia demam menanyakan sudah dikasih obat?saya jawah sudah tadi coba minum obangnya, nanti kalau belum juga ada perubahan baru beli obat lagi. Saya bawa dia kerumah dan coba kasih dia ASI lagi, barulah dia agak tenang
Saat dia minum ASI sambil berbaring tiba-tiba ASI-nya terlepas, saya pikir dia tertidur, saya lihat bibir agak kehitaman matanya melihat ke atas, saya langsung merangkulnya dan memanggilnya Khodijah kenapa nak? Berharap dia melihat kesaya, namun dia hanya diam saja, saya menggendong ke pintu rumah minta bantuan pada orang lain, karena saat itu hanya kami berdua yang berada di rumah
Tetangga saya yang melihat kondisi anak saya yang demikian kaget dan mendekati kami, lalu dia mencari air putih mengusapkannya ke wajah anak saya, ya Allah dek Khodijah... dia mengatakan cepat buatkan kopi pahit lalu kasih dia minumnya, bapak saya dengan segera membuatkan kopinya lalu saya kasih Khodijah minum
Tetangga saya bantu jemput suami saya yang sedang kerja, saat ayah pulang Alhamdulillah Khodijah sudah mulai baikan. Setelah adik saya pulang dari masjid (adik saya memilih tempat aman setor tugas daring di masjid) saya minta diantarkan bawa Khodijah ke dokter, saya takut Khodijah kepanasan saat di jalanan saya tidak mengenakan dia baju dan singlet, sampai di sana rumah dokternya tutup, kami lalu menuju apotek terdekat untuk membeli obat
Sampai sana perawatnya juga sedang keluar ngobati orang lain, sambil nunggu saya menenangkan Khodijah yang mulai rewel hingga dia muntah di jilbab saya, barulah dia mulai tenang, tidak masalah nak yang penting Khodijah merasa lega setelah muntah. Tidak berapa lama kemudian perawatnya pulang menanyakan kami sudah lama nunggu? Tidak jawabku singkat. Dia langsung meriksa Khodijah lalu dikasih obat.
Pulangnya saya langsung kasih Khodijah minum obat dan menidurkannya. Tetangga saya bilang jangan tinggalkan Khodijah sendiri walaupun dia tidur, takutnya kejadian tadi terulang lagi. Baiklah terima kasih
Saat mendekati maghrib orangtua saya ke masjid, adik saya belum selesai masak di dapur. Saya menyusui Khodijah diluar sambil berbaring, karena hanya dengan diberi ASI baru bisa berhenti nangis. Saat menyusui Khodijah tiba-tiba kaget dan menangis, kepalanya menghadap kesaya dan matanya menoleh kesaya seperti saat menyusui, saya rangkul duduk di pangkuan saya kepalanya tidak mau saya arahkan menghadap ke depan, kaki dan tangannya tegang tidak mau dilemahkan
Ya Allah saya manggil adik saya minta bantuan dibuatkan kopi pahit lagi, dan manggil orang depan rumah minta tolong jemput orang tua saya di masjid, karena orang di rumah banyak yang sedang sholat maghrib. Saat itu saya hanya bisa bersholawat sambil memberikan kopi pahit pada Khodijah, hancur rasanya saat melihat kondisi dia saat itu, dalam hatiku menjerit, ya Allah aku belum siap berpisah dengan putriku. Orang-orang datang kerumah melihat putriku yang terus menangis badannya masih tegang, semua sedih dan kaget karena siangnya dia sangat ceria bermain, tidak ada yang nyangka akan seperti ini malam ini
Keluarga sibuk mencari obat yang lainnya untuk kesembuhan Khodijah, saya hanya terus membaca sholawat dan terus memberikan kopi berharap putriku cepat sadar, setelah beberapa menit imanku diuji, Alhamdulillah dengan izin Allah Khodijah sadar. Sungguh aku sangat menyesal telat mengobati putriku, nunggu parah baru membawa dia berobat, padahal uang untuk berobat ada, kendaraan untuk pergi berobat juga ada, kok tega saya membiarkan anak saya yang awalnya meriang berharap sembuh dengan sendirinya
Malamnya saya tidak berani tidur takut kejadian tadi terulang saat saya tidur, saya ikhlas tidak tidur semalaman demi menjaganya, sempat dia ngajak saya bermain dengan mainannya, sangat senang saya menemaninya, karena dia sudah mau jalan ngambil mainannya walau masih lemah, jika badannya mulai panas segera saya kasih minum obat
Esok harinya badan terasa lemah, tidak terasa lapar, makan pun tidak tertarik. Ya Allah sungguh saya menyesali kelalaian ini, semoga ini tidak terulang lagi, dan semoga pengalaman saya ini tidak dialami oleh ibu-ibu yang lain. Aamiin
Monday, October 5, 2020
Syukurku Ditulis
Tak mikir judulnya singkron atau tidak yang penting catat dulu, motivasi menulis ini dari wujut syukurku yang tak terkira
Thursday, October 1, 2020
Apa Kabar Imanku?
Ya Allah mohon tingkatkanlah imanku, jangan terusan menurun. Berbicara memang lebih enak ketimbang mengerjakan apa yang pernah diucapkan. Cukup sering saya mengatakan pada diri sendiri bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, namun ternyata belum juga mampu
Rasanya sangat malu terhadap Sang Pencipta alam semesta, begitu banyak nikmatNya yang kunikmati namun belum juga membuatku sadar untuk selalu bersyukur. Sungguh sedih dengan kondisi imanku saat ini
Orang-orang Sholeh selalu meningkatkan rasa syukurnya dengan cara berkompetisi dengan orang Sholeh lainnya melakukan kebaikan, terutama menulis bagi kalangan ilmuan, agar memperbanyak karya dan memperluas wawasan, tapi nyatanya itu belum terwujud, ya Allah mohon tingkanlah imanku
Tadi saya melihat status teman di Facebook yang memposting karyanya yang berjudul "Allah tak akan pernah meninggalkanmu". Saya membaca sedikit cuplikan dari buku tersebut, saya cukup tertarik membacanya dan komen di status beliau menyatakan saya suka dengan tulisannya dan semoga saya bisa Istiqomah belajar nulis. Beliau menjawab gini "nulis itu skil bukan bakat, semakin sering nulis semakin mahir". Saya langsung ingat pesan mentor literasi Prof Naim "teruslah menulis, menulis, dan menuli".
Barusan saya nonton YouTube beliau memotivasi pengikutnya untuk angkat pedang lalu tebas rasa malas agar semangat nulis tak tertatih-tatih lagi untuk bangkit, semoga ya Allah....
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sedih Dan Bersyukur
Jum'at 26 November 2021 Khodijah diasuh sama ayah di rumah nenek Seringat, karena setiap hari jum'at dan rabu Bunda pergi ke kampus ...