Khususnya saya jangankan sedikit tau tentang banyak, sedikit tau tentang sedikit pun belum tentu, mulai sekarang semoga tidak lagi. Pernah baca cerita sahabat Rasulullah yang bernama Ibnu Abbas, salah seorang teman Ibnu Abbas menceritakan, saya melihat banyak orang berkumpul di jalan menuju rumah Ibnu Abbas, sehingga jalan menjadi sempit karena tertutup orang banyak. Saya langsung memberi tau Ibnu Abbas bahwa orang sudah berdesakan di depan pintu. Ibnu Abbas langsung berwudhu lalu berkata siapa yang hendak belajar Al-Qur'an suruh mereka masuk, sahabatnya memberitahukan pada orang-orang yang hendak belajar Al-Qur'an agar masuk ruangan, semua ruangan penuh hingga sampai ruangan kamar, apa saja yang mereka tanyakan dijawabnya dengan panjang lebar. Setelah sampai batas waktu beliau mengatakan beri kesempatan pada kawan-kawan yang lain, mereka keluar semua, dan masuk lagi orang-orang yang ingin belajar tafsir Al-Qur'an. Begitulah seterusnya hingga yang ingin belajar ilmu fiqih, ilmu faraidh, ilmu sastra Arab masuk rumah bergantian, dan orangnya pun berdesakan setiap belajar
Beda jauh dengan yang terjadi zaman sekarang, dosennya bisa mencapai ratusan orang setiap universitas, tapi Ibnu Abbas adalah satu-satunya yang mengajar di universitasnya. Kereen sekali ya
Para ilmuan muslim pun demikian multi disipliner. Banyak ilmu yang mereka kuasai sampai ke akar-akarnya, kenapa yang terjadi sekarang banyak kebalikannya? Saya pun kurang bisa menjawab sepenuhnya
Di antara penyebabnya bisa jadi aqidah manusia zaman sekarang banyak yang kurang murni lagi, banyak yang mempertuhankan yang lainnya tanpa mereka sadari, makanya ilmu kurang nempel. Na'uzubillah. Dan masih ingat olehku ucapan pak Dr. Naim saat belajar di kelas dulu mengatakan lebih kurang begini " Kenapa ilmuan muslim pada zaman dahulu menguasai berbagai bidang ilmu? Jawabannya mereka malamnya seperti sufi, siangnya sebagai ilmuan". Sudahkah kita demikian? Semoga ya Allah, Aamiin..
Jambi, 07 Juni 2020
Terus belajar. Belajar terus.
ReplyDeleteOke spirit literasi
DeleteLuar biasa... Terima kasih ilmunya bu
ReplyDeleteSama2 pak Anam
DeleteKeren
ReplyDeleteBu etik tidak kalah kerennya
DeleteMantab...
ReplyDeleteSemangat yang patut ditiru
ReplyDelete